Minggu, 23 September 2012

Praktikum pembuatan Bioetanol (Fermentasi-Destilasi)


Praktikum Pembuatan Bioetanol (Fermentasi-Destilasi)

I.  Tujuan
Mengetahui tehnik pembuatan bioetanol mulai dari proses fermentasi - destilasi

II.  Dasar teori
    Bioetanol merupakan salah satu energi alternatif pengganti bahan bakar fosil yang dapat dibuat dari substrat yang mengandung karbohidrat (gula,pati,atau selulosa). salah satu bahan yang digunakan adalah beras ketan putih yang memiliki nilai kandungan karbohidrat 81.6 g/100 g porsi maka n.Tahapan proses pembuatan bioetanol adalah :

1. Persiapan Bahan Baku
   Bahan baku untuk produksi biethanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya. Persiapan bahan baku beragam bergantung pada bahan bakunya. Dalam praktikum kali ini, bahan baku yang digunakan adalah beras ketan putih

2.  Fermentasi
     Tape adalah rnakanan hasil fermentasi dari rnikroba, terutama kapang dan ragi. Rasa manis dari tape dipengaruhi oleh kadar gula dari tapenya sendiri. Dalarn proses fermentasi itu pati akan diubah menjadi gula oleh kapang jenis Chlamydomucor dan oleh ragi Saccharomyces Cerevisiae gula diubah menjadi alkohol.
Rasa asam pada tape dapat tirnbul karena perlakuan.perlakuan (proses) yang kurang teliti, seperti penambahan ragi yang berlebihan dan penutupan yang kurang rapat pada saat fermentasi. selain itu rasa asam pada tape dapat terjadi bila fermentasi berlangsung terlalu lanjut. Rapi tape sangat diperlukan dalam pembuatan tape tersebut. Ragi tape yang sudah rusak tidak baik digunakan dalam proses pembuatan tape, sebab itu harus dipilih ragi yang rnasih baik.Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2.Dan tahap selanjutnya yang dilakukan adalah destilasi, namun sebelum destilasi perlu dilakukan pemisahan padatan-cairan, untuk menghindari terjadinya clogging selama proses distilasi.

3. Pemurnian / Destilasi
   Destilasi merupakan salah satu metode pemisahan campuran disamping metode yang lain seperti filtrasi, kristalisasi, sublimasi, Kromatografi. Destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih campuran. Destilasi atau penyulingan digunakan untuk memisahkan campuran homogen (serba sama), seperti campuran air dan alcohol, air laut. Secara teoritis, destilasi juga dapat digunakan untuk memurnikan air sadah. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78 C sedangkan air adalah 100 C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78 - 100 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume. Hasil perasan tape kemudian dialirkan ke dalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 sd 32 C, dan membutuhkan ketelitian agar tidak terkontaminasi oleh mikroba lainnya. Karena itu keseluruhan rangkaian proses dari liquefaction, sakarifikasi dan fermentasi haruslah dilakukan pada kondisi bebas kontaminan.

III.  Alat dan bahan

Alat:

1.Toples plastik bening
2.penangas air
3.alat destilasi sederhana
4.Gelas ukur

Bahan:

1.beras ketan 1 kg
2.Ragi
3.Daun pisang

IV.  Cara Kerja

1.Beras dicuci sampai bersih, ditiriskan kemudian direndam semalaman.
2.Setelah direndam, beras ditiriskan lalu dikukus hingga matang.
3.Sementara beras ketan dikukus, disiapkan air panas 2 gelas.
4.Saat ketan sudah panas mengepul, beras ketan disiram dengan air mendidih (posisi kukusan tetap berada diatas kompor) sambil diaduk-aduk hingga semua ketan rata terkena air panas.
5.Jika sudah matang, ketan diangkat dan diratakan dalam nampan yang besar dan lebar.
6.diiarkan hingga benar-benar dingin, semetara menunggu dingin, ragi dihaluskan
7.Disiapkan media fermentasi berupa toples yang dibawahnya sudah dilapisi dengan daun pisang.
8.Diratakan selapis pertama ketan lalu ditaburi ragi hingga rata. Diulangi langkahnya sampai ketannya habis kemudian ditutup dengan daun pisang.
9.Ditutup rapat toplesnya dan dibiarkan selama kurang lebih 3 hari.
10.dilakukan destilasi terhadap yield

V.Hasil Pengamatan dan Data Hasil Percobaan

1.Hasil fermentasi(3 hari):yield sebanyak 300 ml
2.Destilat:0 ml (Alat destilasi gagal)

VI.  Pembahasan
Pada praktikum pembuatan bioetanol ini dilakukan dengan bahan beras ketan putih sebanyak 1 kg, langkah pertama yang dilakukan adalah persiapan bahan yaitu dengan merendam beras ketan satu malam(12 jam)hal ini dilakukan untuk menambah massa ketan agar tidak terlalu keras.Kemudian beras ketan dikukus sampai masak,setelah itu didinginkan sebelum dilakukan proses fermentasi,karena apabila ragi dicampurkan dalam keadaan panas akan menyebabkan khamir (Saccharomyces cerevisiae)akan mati,karena khamir memiliki suhu optimum bekerja pada 250-30­0 C dan memiliki suhu maksimum 450C.Setelah dingin lalu ketan dimasukkan ke dalam toples yang sudah dialasi daun pisang,berdasarkan Jurnal Gradien Vol.2 No.1 Januari 2006 : 123-125 bahwa variasi wadah pada proses fermentasi mempengaruhi kadar dari etanol. Daun pisang akan memberikan suasana yang lebih cocok bagi mikrobia fermentator untuk berperan aktif dalam proses fermentasi karbohidrat menjadi etanol. Ketan dan ragi yang telah dihaluskan dimasukkan secara berlapis setelah itu toples ditutup rapat agar oksigen tidak masuk,dan proses metabolisme anaerob khamir dapat berlangsung. Menurut Pasteur, keberadaan oksigen akan menghambat  jalur fermentasi di dalam sel khamir sehingga sumber  karbon yang ada akan digunakan melalui jalur  respirasi. Fenomena ini sering disebut sebagai  Pasteur effect. Pada sel-sel prokariota  dan eukariota, Pasteur effect banyak dijumpai,  salah satu contoh adalah fermentasi asam laktat oleh sel  otot manusia ketika kekurangan oksigen.  Berdasarkan  fenomena ini, seharusnya produksi ethanol oleh khamir  terjadi pada kondisi anaerob. Namun ternyata, Pasteur effect  pada sel khamir diamati pada sel yang telah memasuki  fase stasioner (resting), sedangkan produksi alkohol terjadi  ketika sel berada pada fase pertumbuhan (fase log). Hal inilah yang membuat Pasteur effect diduga bukan fenomena yang terjadi saat produksi ethanol oleh Saccharomyces cerevisiae.




   Pada hari ke-3, proses fermentasi telah selesai dan diambil airnya, air yang didapat dari proses fermentasi adalah 300 ml yang kemudian akan didestilasi untuk memperoleh alkohol. pertama, air perasan dituang ke dalam kondensor dan dipanaskan di atas penanggas air. Destilasi ini dapat berjalan dengan baik apabila temperatur dalam kaleng kondensor tidak melebihi 80 derajat Celcius karena jika melebihi bahkan sampai 100 derajat, etanol akan bercampur dengan air. Keadaan seperti ini sering disebut "azeotrop". Teori azeotrop merupakan campuran dari 2 atau lebih komponen pada komposisi tertentu yang tidak bisa berubah hanya melalui destilasi biasa. Ketika campuran azeotrop didihkan, fase uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan fasa cairnya. Campuran ini sering disebut constant boiling mixture karena komposisinya yang senantiasa tetap jika campuran tersebut dididihkan. Setelah menunggu selama kurang lebih 1 jam, tidak ada setetespun etanol yang keluar, hal ini disebabkan oleh kesalahan alat destilasi sederhana yang dibuat. 





VI.Kesimpulan
1.Proses fermentasi dapat terlihat pada hari ke-3 dengan dihasilkan 300 ml yield
2.Kegagalan alat destilasi sederhana disebabkan peralon dari jar pemasakkan terlalu tinggi sehigga uap destilasi tidak dapat mengalir.

VII.Daftar pustaka
1.Sutanto,teja dwi dan martono,agus.2006.Studi Kandungan Etanol Dalam Tapai Hasil Fermentasi Beras Ketan Hitam Dan Putih.Bengkulu.Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu, Indonesia
3.www.litbang.deptan.go.id (diakses tanggal 23 september pukul 22.00 WIB)


Selasa, 11 September 2012

Pembuatan Alat Destilasi Sederhana


Destilasi merupakan salah satu metode pemisahan campuran disamping metode yang lain seperti filtrasi, kristalisasi, sublimasi, Kromatografi. Destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih campuran. Destilasi atau penyulingan digunakan untuk memisahkan campuran homogen (serba sama), seperti campuran air dan alcohol, air laut. Secara teoritis, destilasi juga dapat digunakan untuk memurnikan air sadah.
Alat destilasi terdiri dari labu destilasi, thermometer, kondensor Leibig, pembakar spiritus/Bunsen, kaki tiga, dan statif. Pada pemisahan campuran alkohol, maka alkohol akan mendidih lebih awal dan menguap karena alcohol memiliki titik didih lebih rendah daripada titik didih air. Uap alkohol selanjutnya akan mencair setelah melalui pipa kondensor. Cairan inilah yang disebut destilat (alkohol) murni. Sedangkan pada labu hanya tinggal air. Dengan demikian, alcohol telah terpisah dari air.
 Alat destilasi sederhana menngunakan pipa kaca dan pipa paralon sebagai pengganti kondensor leibig, kaleng bekas sebagai pengganti labu destilasi

Alat dan Bahan
  • Pipa peralon plastik bening panjang 1,5 M
  • 2 Kaleng bekas
  • Siku peralon 2 buah
  • Bor listrik
  • Gerinda
  • Lem besi epoxy
  • Gergaji besi


Cara Kerja
1) Persiapkan alat alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan alat destilasi sederhana 
2) Potonglah pipa menjadi tiga bagian dengan ukuran 20 cm,10 cm, dan 25 cm.
3) Lubangi kaleng pertama yang akan dijadikan penampung bahan awal dibagian tutupnya(sesuaikan dengan diameter pipa)
4) Lubangi kaleng kedua dibagian tutup dan dasarnya sebagai kondensator(lebihkan pipa keluar dasar kaleng)
5)Rangkai pipa,pasang pipa panjang 20 cm ke kaleng pertama kemudian rekatkan dengan lem besi
6) Pasang siku dibagian atas pipa kemudian pasang pipa yang panjangnya 10 cm kemudian pasangkan lagi siku dan kemudian pasangkan pipa kedua(membentuk huruf "n")
7)Masukkan pipa ketiga ke dasar kondensator hingga keluar kaleng sedikit.

Catatan:kondensator nantinya akan diisi dengan air dingin




Sabtu, 08 September 2012

Rangkuman Cara Kerja


Berikut ini adalah rangkuman cara kerja yang diambil dari blog http://prakkimorg.blogspot.com/



1.   Bioetanol dari Rumput Gajah





- Ditimbang rumput gajah seberat variabel yang telah dijalankan
- Dicampur rumput gajah ke dalam 7 L H2O

- Disaring larutan tersebut dan diambil filtratnya.
- Dianalisa kadar glukosa pada filtrat hasil hidrolisa dan Dicari kondisi terbaik untuk dilakukan fermentasi.
-Ditambahkan Asam Sitrat ke dalam filtrat hasil hidrolisa yang akan difermentasi hingga mencapai pH fermentasi yang telah ditetapkan 4,5.

- Dianalisa kadar glukosa


Prosedur Proses Fermentasi
- Hasil glukosa terbaik yang diperoleh dari proses hidrolisis, yaitu glukosa yang diperoleh dari hidrolisis rumput gajah sebanyak 200 gr dengan HCl 20 ml.

- Ditambahkan Asam Sitrat ke dalam filtrat hasil hidrolisa yang akan difermentasi hingga mencapai pH fermentasi yang telah ditetapkan ( 4,5 ).
- Dimasukkan starter ke dalam larutan tersebut dalam kondisi anaerobik.
- Ditutup rapat botol dan Diamati selama waktu tertentu

- Dianalisa kadar ethanol


Prosedur Proses Distilasi
Hasil dari fermentasi yang didapat dimasukkan kedalam labu distilasi untuk mendapatkan alkohol dari glukosa, Proses distilasi ini dijalankan pada suhu 70-80oC, setelah volume larutan bottom tinggal 10 % distilasi dihentikan, kemudian dianalisa kadar ethanolnya.



2. Optimasi Metode Transesferikasi dan Fermentasi dalam Recombinant Eschericia coli sebagai Sumber Biodiesel






Metode Transesterifikasi
         Dalam proses transesterifikasi dibutuhkan sejumlah metil alkohol dan KOH yang dicampur pada tangki reaktor kurang lebih 10 menit hingga KOH terlarut dengan sempurna. Proses pertama transesterifikasi adalah pemurnian Escherichia coli ATCC 11303. Tahap pemurnian ini menggunakan air yang mengandung zat asam. Larutan ini dapat diperoleh dengan mencampur asam asetat (CO3COOH) dengan air (H2O). Perbandingan campuran adalah 40% dari Escherichia coli. Air dengan kandungan asam tersebut berfungsi untuk mengeluarkan angin didekat dasar tangki sehingga gelembung-gelembung dan udara terangkat. Setelah melalui tahapan pada proses tersebut maka akan dihasilkan bioetanol murni dan gliserin. Hasil dari proses pemurnian tersebut kemudian dimasukkan Waste Cooking Oils (WCO) ke dalam reaktor dengan menambahkan 25% (dengan volume WCO) etanol murni dan KOH dalam berbagai variasi konsentrasi. Variasi konsentrasi KOH/liter WCO adalah 6,00 gram; 6,25 gram; 6,50 gram; dan 6,75 gram. Tahapan kedua memanaskan sampel dalam reaktor dengan variasi suhu 48oC, 60oC, dan 65oC, selama 50 - 60 menit. Variasi tekanan dikombinasikan dengan variasi suhu kemudian didiamkan selama 12 jam. Larutan kemudian menjadi potasium metoksida.
         Tahapan ketiga adalah pengambilan sejumlah gliserin dari hasil tahapan pertama dan kedua, kemudian menuangkan kembali biodiesel yang dihasilkan ke dalam reaktor dan ditambahkan metanol dari sisa proses pertama dan kedua dengan jumlah yang sama pada tahapan pertama juga pemberian katalis KOH, yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat kemurnian biodiesel.
         Minyak nabati kemudian dialirkan atau ditransfer ke reaktor utama untuk menghasilkan minyak nabati atau biodiesel yang diinginkan. Tangki reaktor harus disesuaikan untuk mempercepat determinasi volume. Metoksida kemudian dialirkan ke dalam reaktor dan proses pencampuran pun dimulai. dalam proses esterifikasi dibutuhkan waktu kira-kira 60 menit. ester kemudian ditransfer dengan pompa atau secara grafitasi ke dalam tangki penampungan. Setiap bak memproduksi kurang lebih 500 liter per hari, oleh sebab itu, harus disiapkan 2 bak dalam sehari.

         
Metode Fermentasi
          Pada tahapan metode fermentasi, Escherichia coli ATCC 11303 yang membawa plasmid pLOI297 diletakkan dalam medium dengan pendinginan (-200C) dalam 40% gliserol dan pertumbuhan medium yang kompleks mengandung 2% glukosa dan 10 mg/L tetracyclin. Mediumnya terdiri dari trypton (10 g/L), ekstrak ragi (5 g/L) dan NaCl (5 g/L). Fermentasi dilakukan pada medium tersebut dengan menggunakan larutan buffer potassium fosfat (pH = 7) pada konsentrasi akhir 0,2 M. Fermentasi dari glukosa (5g/L), xylosa (80g/L) dan arabnosa (5g/L) dibuat dengan 42,5g/L ethanol selama 96 jam yang menghasilkan 0,49 alkohol per 1 gram gula menggunakan Recombinant Escherichia coli. Konsentrasi glukosa, xylosa dan arabinosa dalam proses hidrolisis dapat dikembangkan untuk teknologi konversi biomassa pada produksi fuel etanol menggunakan ethanologenik E.coli. Untuk menghasilkan etanol dari fermentasi dapat dilakukan variasi konsentrasi yaitu glukosa dan xylosa (80g/L, 100g/L, 120g/L). Semakin banyak konsentrasi glukosa dan xylosa yang terkandung pada ethanologenik E.coli maka semakin banyak etanol yang dihasilkan. Dua proses hidrolisis tersebut dapat digunakan dengan metode SHF (separate hydrolysis and fermentation) atau SSF (simultaneous saccharification and fermentation).




3. Proses Pengambilan Kembali Bioethanol Hasil Fermentasi dengan Metode Adsorpsi Hidrophobik

a.      Pembuatan Etanol Sintetis Hasil Fermentasi

Glukosa sebanyak 4 gram dilarutkan dalam etanol teknis 5 gram dan aquadest 95 gram dan kemudian diaduk sampai homogen.
b.      Analisa Kadar Etanol Awal
Sampel yang dibuat akan dianalisa terlebih dahulu kadarnya dengan menggunakan metode cawan Conway. Data hasil analisa akan digunakan sebagai perbandingan etanol yang sudah dimurnikan nantinya.
c.       Tahap Adsorbsi Etanol
1.      Beaker glass diisi sampel sebanyak 100 ml
2.      Dimasukkan adsorben sebanyak 10 gram
3.      Diaduk dengan magnetic stirrer sampai homogen selama 30 menit
4.      Sampel disaring untuk memisahkan adsorben
5.      Filtrate yang didapat dianalisa kembali kadarnya dengan menggunakan metode cawan Conway
6.      Dilakukan percobaan yang sama untuk seluruh variabel
7.      Analisa data
4. Bioethanol Biji Sorgum





    
Tahap proses paling awal berupa perlakuan mekanis penghancuran biji dengan disc-mill untuk memperkecil ukuran partikelnya . Penurunan ukuran partikel yang diperoleh akan berpengaruh terhadap disintegrasi jaringan kulit bijinya, yang selanjutnya juga mempengaruhi efektifitas proses hidrolisis senyawa patinya. Sebagai upaya untuk mengantisipasi atau meminimalkan pengaruh tersebut akan ditetapkan distribusi ukuran partikel tepung yang dihasilkan. Pad a tahap proses hidrolisis pati dalam tepung sorgum secara enzimatis, diperlukan proses pemanasan hingga 80°C dan pengadukan yang terus menerus. Adanya matriks protein yang melingkupi butir patinya dapat menghalangi kontak butir pati tersebut dengan katalis enzim 0amylase yang ditambahkan. Sebagai akibatnya, proses pemutusan ikatan a-1,4 D-glukosida senyawa amylosa dan amilopektin yang dikatalisasi a-amylase menjadi terhambat. Pada saat suhunya mencapai titik gelatinasinya, viskositas suspensi pati tersebut meningkat tajam dan tidak segera turun lagi , karena laju proses liquifikasinya terhambat.
               Sesuai dengan hasil penelitian pendahuluan yang telah dilakukan pada tahun 2005, hambatan proses liquifikasi tersebut dapat diatasi dengan perlakuan enzirnatis atau kimiawi. Agar biaya tambahan perlakuan proses hidrolisis alkali tersebut masih layak secara ekonomis, maka perlu ditentukan konsentrasi alkali dan waktu minimal yang dibutuhkan untuk proses hidrolisis matrik protein tersebut. Syarat kecukupan untuk keberhasilan proses hidrolisis alkali tersebut ditentukan dengan parameter viskositas dan nilai DE yang diukur pada akhir proses hidrolisis tahap pertama (likuifikasi). Perlu dipertimbangkan pula, bahwa implementasinya pada skala industri untuk setiap tahap proses hidrolisis dan fermentasinya dilakukan pada tangki reaktor yang berbeda. Pemindahan bahan fluida dari satu reaktor ke tangki reaktor yang lain menggunakan pompa. Kelancaran transfer fluida akan dipengaruhi oleh tingkat kekentalan atau viskositas fluida tersebut.
               Menjelang tahap proses sakarifikasi, suhu media diturunkan hingga 60°C kemudian dilakukan penambahan enzim glucoamylase. Penahanan suhu 60°C biasanya berlangsung 1 -2 jam, kemudian bubur pati didinginkan hingga 30°C dan ditambah biakan khamir untuk proses fermentasi. Syarat kecukupan proses sakarifikasi tersebut ditentukan dengan parameter nilai DE 2:40% agar mencukupi kebutuhan khamir untuk berkembang biak dan memulai proses fermentasi secara efisien. Pencapaian nilai DE dalam selang waktu dua jam tersebut tergantung pada dosis penambahan enzimnya
              Aktivitas enzim glucoamylase selanjutnya yang simultan dengan proses fermentasi pada suhu 30°C memang lebih rendah, tetapi laju proses hidrolisisnya diharapkan cukup besar untuk mempertahankan penyediaan glukosa yang dikonversi oleh khamir Saccharomyces cerevisiae rnenjadi bioetanol. Penentuan efisiensi proses hidrolisis dan fermentasi yang berlangsung simultan tersebut akan dilakukan dengan perhitungan Sugar Consumption Ratio dan Fermentation Ratio.
              Disamping hal tersebut di atas, dalam fermented broth terdapat endapan (sludge) yang jumlahnya cukup tinggi (40-55% packed volume). Komposisi kandungan serat, protein, lemak, sisa pati dan mineralnya sangat berpotensi sebagai pakan ternak. Namun padatan yang cukup tinggi tersebut dapat mengganggu atau mengharnbat proses pengumpanannya ke kolom distilasi. Agar diperoleh daya gunanya yang optimal perlu ada kajian pemilihan proses pemisahan sludge yang dilakukan sebelum proses distilasi atau sesudahnya. Cara dan waktu pemisahan sludge yang akan dimanfaatkan tersebut akan berpengaruh terhadap komposisi padatannya, jumlah kehilangan alkohol yang terikut dan kualitas limbah cair proses distilasinya.

Selasa, 04 September 2012

Alat-alat Gelas Kimia

No.
Nama
Kegunaaan
1.
Pipet Tetes





Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil
2.
Gelas Ukur



Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada saat pembacaan skala.
3.
Tabung Reaksi



Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk mereaksikan zat zat kimia
4.


Buret

Terbuat dari gelas. Mempunyai skala dank ran. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat dilihat pada skala.
5
Pipet Gondok


Pipet ini berbentuk seperti dibawah ini. Digunkan untuk mengambil larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan.
6.
Corong


Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastic. Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.
7.
Cawan Petri

Digunakan untuk membiakan sel,cawan petri selalu berpasangan yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar sebagai tutupnya
8.
Corong Pemisah




Corong pemisah atau corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas berbeda yang tak campur.
9.

Batang Pengaduk


terbuat dari bahan kaca tahan panas, berfungsi untuk mengaduk campuran kimia
10
Gelas beker


Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.
11
Erlenmeyer


Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat gelas tersebut (ralat cukup besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi. Kadang-kadang boleh juga digunakan untuk memanaskan larutan.
12
Kaca Arloji


terbuat dari kaca bening, terdiri dari berbagai ukuran diameter.
Fungsi :
1. Sebagai penutup gelas kimia saat memanaskan sampel
2. Tempat saat menimbang bahan kimia
3. Tempat untuk mengeringkan padatan dalam desikator
13.
Erlenmeyer buncher


berupa gelas yang diameternya semakin ke atas semakin mengecil, ada lubang kecil yang dapat dihubungkan dengan selang ke pompa vakum. Terbuat dari kaca tebal yang dapat menahan tekanan sampai 5 atm. Ukurannya mulai dari 100 mL hingga 2 L. Dipakai untuk menampung cairan hasil filtrasi.
14
Pipet Ukur


Adalah alat yang terbuat dari gelas. pipet ini memiliki skala. digunakan untuk mengambil larutan dengan larutan tertentu. gunakan bulp atau pipet pump untuk menyedot larutan. 
15

Bunsen Spiritus



Memanaskan dan menghasilkan api
16
Botol Reagen


Untuk menyimpan bahan kimia cair
17
Desikator

-Tempat menyimpan sampel yang harus bebas air
- Mengeringkan padatan







































































































































































































































































sources: http://labkd.blog.ugm.ac.id/2008/11/25/pengenalan-alat-gelas/
             http://glasswareindonesia.indonetwork.co.id/group+65454/corong-pisah.htm